Iterative development model sekarang makin bervariasi. Hal ini semakin memperjelas bahwa waterfall telah mengalami kejatuhan
baru” ini saya mendapat ilmu mengenai agile development model dan extreme programming (XP). Lagi” dari Norman saya mendapat 2 ilmu itu
. Agile dan XP lebih mengedepankan proses iterative dalam fase development. Kenapa?
Sistem waterfall dinilai memiliki banyak kelemahan dan sudah tidak sesuai lagi dengan sitem pengembangan software di jaman sekarang. Salah satu kelemahannya yg paling besar adalah tidak adanya proses iterative. Mengapa proses iterative begitu besar menunjukkan kelemahan waterfall? Hal ini dikarenakan cost yg begitu besar jika ada kesalahan dalam study requirement. Menurut pemahaman saya, jika telah sampai di fase implementasi terdapat kesalahan design, maka developer harus memulainya lagi dari study requirements. It costs much, doesn’t it?. Padahal, kesalahan design pada masa sekarang ini merupakan hal biasa. Kesalahan design meliputi penurunan performance ketika pengguna sistem bertambah merupakan hal yg sering terjadi. Di waterfall, saya harus mengulang 2 fase atau memulai dari awal, padahal sebenernya saya hanya miss di 1 fase di atas development saja. OK ini hanya merupakan teori karena rata” developer hanya tinggal meloncat saja ke design kembali dan kembali ke implementation tanpa harus memulai lagi dari requirement. Tapi dari yg kita lakukan diatas, sudah jelas bahwa waterfall bukan solusi bagi developer, is it? Yang sering terjadi justru proses iterative ketika telah memasuki fase implementasi/design.
Untuk iterative model, saya coba mencontoh Agile Development model. Fase pertama adalah Initial Requirements dan Initial Architectural. Kenapa
harus ada Initial Architectural? Menurut pemahaman saya dari penjelasan singkat teman saya, fase Architectural diperlukan untuk menganalisis ketepatan software atau performance software kita nantinya jika akan diinstal dan akan digunakan oleh beberapa user. Coding is not just cowboy code. Hanya mengedepankan yg penting program jadi tanpa memikirkan aspek” lain yg dapat menyebabkan penuruan performance software itu sendiri. Yg lebih diperhatikan dalam fase ini adalah database behavior, networking / hardware yg mendukung sistem yg akan dijalankan.
Nah, fase berikutnya merupakan fase development yg terdiri dari n iteratives. Saya bebas kembali ke model dan testing selama requirement saya benar. Apa yg terjadi jika ada kesalahan requirement? Tentu saya akan dimarahi bos saya
karena fase requirement adalah fase penting dalam memulai sebuah development. No compromise if you have missed the requirements.
Lebih flexible atau lebih real mana di dunia nyata antara waterfall dan agile development model? Bagaimana dengan extreme programming (XP)? saya sendiri belum begitu mengerti jelas karena fasenya lumayan rumit untuk dipahami. Saya harus membacanya berkali-kali untuk mengerti development cycle ini. 
![]()
Saya juga belum begitu paham benar apa kelebihan agile development model jika tidak dibandingkan dengan waterfall
. Saya baru membacanya hari ini karena Kendall saja harus menunggu sampai edisi ke-7 untuk bukunya System Analysis and Design untuk mengakui Agile Development Model as the chosen one. Riskan dan ngeri juga, karena kuliah saya menggunakan buku kendall yg edisi ke-4. Saya ga tau seberapa banyak berubah pemikiran kendall selain Agile Development Model ini, tapi lebih menyenangkan jika saya mempelajari issue terbaru saat ini

October 30, 2007 at 12:46 am |
aduh zae, yg xtreme kok kecil bgt sih gambarnya…
October 30, 2007 at 2:46 am |
buka situsnya aja tik
ga tau ni wordpress kenapa jadi kecil gitu, padahal gambarnya gede ko..
buka aja extremeprogramming.org
October 30, 2007 at 10:52 am |
aduuuhhh….pusing Zae nginget ini lg n_n
October 30, 2007 at 11:13 am |
hehehe…mau ga mau inget ndro, kalo kantor lo penerapannya pake apa? jaminan ga waterfall deh