Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Norman Sasono, memang terlihat jelas perbedaan profesor di Malaysia dengan Indonesia, atau dosen di kedua negara tersebut. Beberapa dosen di Indonesia tidak sedikit yang memiliki project sampingan di luar akademisinya, dan wajar menurut saya, karena mereka berusaha untuk mempertahankan hidup mereka sebagai dosen. Kita tahu bahwa gaji dosen memang lebih kecil jika dibandingan dengan swasta. Tapi kenyataannya sekarang menjadi terbalik, project sampingan menjadi kerja utama mereka, sementara mengajar menjadi sampingan mereka.
Penyebab terbaliknya kewajiban tersebut tentu tidak jauh dari masalah ekonomi. Salary yang mereka dapatkan dari project sampingan tentu bisa jadi lebih besar dari salary mereka sebagai dosen, dan penyebabnya, karena mengajar itu menjadi sampingan mereka, banyak mahasiswa yang terbengkalai,banyak jadwal molor karena urusan ini. So, where’s your commitment?
Saya TIDAK MENYALAHKAN kalau beberapa dosen banyak memiliki project sampingan, karena hidup berkeluarga akan banyak membutuhkan expense. Tapi selama kewajiban mengajar mereka masih dipenuhi, it’s not a problem. Masalah ini menjadi problem yang besar untuk mahasiswa S2. It’s ok lah mahasiswa S2 itu lebih banyak improve sendiri ilmu”nya, jadi mereka lebih banyak explore atas ilmu yang akan didapatnya, tetapi kalau dosen jarang datang, akibatnya adalah, jadwal ujian molor, dan apa yang terjadi? jadwal yang telah given by office, ikut hancur berantakan, padahal mahasiswa S2 membayar lebih mahal dari biasanya, especially executive class. Sudah bayar mahal, masih tidak cukup mendapat kewajibannya ?? saya harus bayar berapa mahal lagi ????
Saya benar” kecewa dengan institusi yang saya sekarang sedang join master classnya. Office schedule saya hampir hancur berantakan karena jadwal yang sering molor ini. Saya sudah bayar sebegitu mahalnya, saya sudah atur jadwal sebegitu siapnya, dan beberapa dosen itu dengan entengnya tidak masuk kelas karena project mereka mengharuskan memilih, mengajar atau mengerjakan project?? Dimana hak saya sebagai mahasiswa ?
Kondisi ini sangat memprihatinkan pendidikan Indonesia, kenapa ? Dosen” itu tentunya akan lebih spend time mereka untuk project daripada penelitian, padahal penelitian suatu perguruan tinggi merupakan gengsi perguruan tinggi itu. Saya pernah dengar kasus ada dosen yang mengajukan duplicate penelitian demi naiknya jenjang PNS mereka. Dosen saja sudah mencontohkan copy paste, bagaimana dengan mahasiswanya ??
I hate it and it was s**ked me. Can the head of department firmly fine the irresponsible lecturer? Kalau saya mahasiswa S1 mungkin tidak bisa banyak bicara karena kewajiban saya hanyalah belajar, tapi kalo S2, saya berbenturan dengan kewajiban mengasapi dapur tho? dan biasanya mahasiswa S2 itu memiliki syarat sudah bekerja untuk instansi tertentu setidaknya selama 2 tahun. Can we honor each other ?
Mr. President, can you hear me? Could you give 3 million for fresh lecturer? so that they will choose become lecturer rather than industry.
Saya menyesal membayar begitu mahal kepada institusi yang sekarang saya join untuk master class saya.